Anak Jalanan Itu Ingin Jadi Orang Benar


Sabtu, 16 Januari 2010 | 20:35 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta - Abu sudah empat tahun lebih menyambangi sebuah rumah singgah di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, yang dikelola Ditls Foundation — didirikan suami-istri DR. Russel Dilts dan Wahyu Setyowati.

Remaja berusia 16 tahuni itu mengaku nyaman berada di rumah singgah itu dan bisa belajar banyak. “Saya juga kan dibiayi sekolahnya,” ujarnya, Sabtu (16/1).

Abu tidak tinggal di rumah singgah itu. Dia tinggal bersama kedua orang tuanya tidak jauh dari rumah singgah. Kegiatan Abu sehari-hari tidak beda dengan anak seusianya. Setiap pagi dia bangun jam setengah enam pagi. “Ya.. kadang salat subuh, kadang enggak,” katanya terkekeh.

Setelah itu dia mandi, sarapan dan begegas pergi ke sekolah. Sekolahnya, SMK Kharismawita, berjarak 10 kilometer dari rumahnya di Jakarta Selatan. Setiap pukul tujuh pagi dia harus sampai di sekolah dan pulang pukul satu. “Yang ditekankan di sekolah, perkantoran, kaya komputer dan kegiatan sekretaris. Ada juga Agama dan pelajaran komunikasi,” katanya.

Selesai sekolah Abu langsung pulang. Ia tidak biasa bermain dengan teman sekolahnya. Pukul setengah dua Abu baru mampir ke rumah singgah. “Di sini saya belajar lagi. Di sini saya belajar Matematika, IPA sama IPS,” kata penggemar grup band Ungu itu.

Kehidupan rutin Abu saat ini diakuinya lebih baik dibandingkan saat dulu, pada tahun 2004, ketika dia jadi pengamen. “Waktu itu kan saya baru datang dari Tegal, jadi belum tahu mau ngapain,” katanya.

Selama mengamen Abu mengaku dia tidak membagikan hasilnya kepada orang lain. Uang hasil ngamennya murni dia gunakan untuk membantu orang tuanya. “Biasanya dapat Rp 30 ribu, itu saya bagi dua sama teman. Biasanya uang itu saya pakai buat jajan dan bantu orang tua,” kata remaja yang hobi main gitar itu.

Selama menjadi pengamen Abu mengaku tidak pernah bertemu orang “aneh” seperti Babe atau ditangkap sama petugas. “Untungnya enggak pernah ketangkep dan ketemu orang aneh,” katanya. Namun dia tahu kasus Babe. “Iya saya tahu. Biasanya homoseksual kalau udah marah suka begitu.”

Kehidupan Abu selama di jalanan cukup bersih. Selama mengamen dia tidak pernah mencoba narkoba atau ngelem. “Alhamdulilah enggak pernah. Paling parah ya ngerokok, tapi itu juga gak sampai kecanduan.”

Pengalaman Abu berbeda dengan temannya yang lebih banyak ngamen, Agus, 14 tahun. Menurut Abu, Agus datang kalau hanya ada perlu saja. “Agus jarang ke sini, dia sedang ngamen,” kata Abu.

Kehidupan Agus, kata Abu, tidak bisa diperbaiki sepertinya. “Mungkin karena kebiasaan dapat uang tiap hari dia jadi jarang ke sini. Di sini kan enggak dapat uang,” katanya.

Menurut Abu, Agus termasuk pengamen yang beruntung. Dia tidak pernah bertemu dengan orang “aneh” seperti Babe. Namun dia sering tertangkap petugas ketertiban. “Dia mah biasa ketangkep,” katanya.

Hal senada tentang Agus juga diungkapkan Ellie, relawan di Dilts Foundation. “Agus memang sering ketangkep. Pernah dia datang dengan muka babak belur. Biasanya kalo ketangkep yang menebus selalu kita (Dilts foundation),” katanya.

Lantas kenapa Agus tidak merasa betah berada di rumah singgah? “Dia kan sekeluarga ngamen semua. Kedua kakaknya pengamen sejati,” kata Ellie.

Kebiasaan Agus yang selalu kembali jadi pengamen, menurut Abu, adalah keadaan ekonomi. Setiap hari Agus selalu menyetor Rp 20 ribu kepada orang tuanya. “Ibunya Agus pembantu panggilan, bapaknya sudah sakit-sakitan. Lagian keluarganya ngamen semua, jadi itu udah bawaan,” kata Abu.

Menurut Ellie, Ditls Foundation membantu sekitar 300 anak. Ada anak jalanan, anak dari keluarga tidak mampu, dan anak yatim piatu. “Tidak semuanya kami bantu. Biasanya disurvei dulu,” kata Ellie.

Apa saja yang didapat di rumah singgah Dilts Foundation? “Di sini banyak fasilitas, ada gitar, komputer, terus banyak temannya,” kata Abu.

Jadi tidak semua anak jalanan itu selamanya hidup di jalanan. Abu termasuk anak yang berpikir ke depan. Ia mau memperbaiki dirinya dan keluar dari hidup yang serba tidak pasti di jalanan. “Alasan saya berhenti jadi pengamen karena mau memperbaiki diri dan tidak mau nyusahin urang tua. Istilahnya saya mau jadi orang bener,” tutup Abu.

DANANG WIBOWO

One Response to “Anak Jalanan Itu Ingin Jadi Orang Benar”

Aku beberapa hari ini juga ikut bagian di salah satu rumah singgah jogja khusus laki-laki. Disini kami menampung ada dua tipe anak” yaitu punk dan anak jalanan biasa namun yang menjadi perhatian saya adalah di kota ini tidak menyediakan rumah khusus untuk anak perempuan. Mohon kalau bisa memberikan tanggapannya ke email saya. terimakasih

Leave comments

(required)

(will not be published) (required)